![]() |
| Ilustrasi Penyakit DBD |
Suarasitaronews.com-Tagulandang : Jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sitaro dinilai
kurang proaktif dalam melakukan usaha- usaha pencegahan dan
penanggulangan penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Kendati kasus DBD khusunya di wilayah Tagulandang itu terus meningkat dan telah menelan korban jiwa, namun pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui pengasapan tidak dilakukan secara intensif dan menyeluruh.
Bahkan, Permintaan warga masyarakat kepada Dinas Kesehatan untuk melakukan pengasapan di kawasan permukiman mereka juga kurang ditanggapi.
Penilaian itu disampaikan Tokoh pemuda di Tagulandang, Edward Jacob, ketika bertemu wartawan, Senin (16/02).
Dikatakannya, pengaduan warga masyarakat mengenai peningkatan kasus DBD kepada pihak Legislatif maupun Eksekutif sudah banyak. Namun pengaduan masyarakat itu kurang direspon terkait meningkatnya kasus DBD.
"Jajaran Pemerintah dan Wakil rakyat kurang merespons pengaduan tentang kasus DBD. Permintaan warga mengenai fogging juga kurang ditanggapi. Padahal, kasus DBD terus meningkat," katanya.
Jacob mengatakan, pihaknya sudah meminta agar jajaran Dinkes melakukan reaksi cepat menanggulangi peningkatan kasus DBD. Reaksi cepat penanggulangan DBD tersebut perlu dilakukan untuk mencegah banyaknya korban DBD di Tagulandang.
Sementara berdasarkan informasi yang berhasil dihinpum media ini, sedikitnya 50 warga Tagulandang bergejala DBD yang saat ini masih dalam perwatawan intensif di RSUD Tagulandang, dan Puskesmas Bahoi, diantaranya 1 orang telah dinyatakan Positif DBD. Sedangkan 3 orang lainnya meninggal dunia.
Kendati kasus DBD khusunya di wilayah Tagulandang itu terus meningkat dan telah menelan korban jiwa, namun pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui pengasapan tidak dilakukan secara intensif dan menyeluruh.
Bahkan, Permintaan warga masyarakat kepada Dinas Kesehatan untuk melakukan pengasapan di kawasan permukiman mereka juga kurang ditanggapi.
Penilaian itu disampaikan Tokoh pemuda di Tagulandang, Edward Jacob, ketika bertemu wartawan, Senin (16/02).
Dikatakannya, pengaduan warga masyarakat mengenai peningkatan kasus DBD kepada pihak Legislatif maupun Eksekutif sudah banyak. Namun pengaduan masyarakat itu kurang direspon terkait meningkatnya kasus DBD.
"Jajaran Pemerintah dan Wakil rakyat kurang merespons pengaduan tentang kasus DBD. Permintaan warga mengenai fogging juga kurang ditanggapi. Padahal, kasus DBD terus meningkat," katanya.
Jacob mengatakan, pihaknya sudah meminta agar jajaran Dinkes melakukan reaksi cepat menanggulangi peningkatan kasus DBD. Reaksi cepat penanggulangan DBD tersebut perlu dilakukan untuk mencegah banyaknya korban DBD di Tagulandang.
Sementara berdasarkan informasi yang berhasil dihinpum media ini, sedikitnya 50 warga Tagulandang bergejala DBD yang saat ini masih dalam perwatawan intensif di RSUD Tagulandang, dan Puskesmas Bahoi, diantaranya 1 orang telah dinyatakan Positif DBD. Sedangkan 3 orang lainnya meninggal dunia.
rags@suarasitaronews.com

0 komentar:
Post a Comment