Catatan Redaksi SSN - Nampaknya hampir seluruh
masyarakat Sitaro mulai merasa gerah dengan pemerintahan yang di komandoi bupati
Toni Supit yang dinilai sangat kontrafersial dalam menyelenggarakan
pemerintahan daerah.
Hal ini terlihat dari berbagai
kritikan masyarakat yang timbul mulai dari Infrastruktur, sampai pada Birokrasi
yang tidak sesuai, serta terdapat banyak penyimpangan yang di khawatirkan akan berujung
pada gagalnya komitmen bupati untuk mensejahterakan rakyat yang berdiam di
negeri 47 pulau ini, sementara pemerintah terus mencatatkan prestasinya di atas
kertas dengan mendapatkan opini Badan Pemeriksa keuangan (BPK) yang terbilang
sangat baik, diawali dengan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) pada tahun
2012 silam, dan disusul lagi dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) pada
tahun 2013 kemarin.
Pemerintah Sitaro pun hingga saat
ini terus menambah koleksi tersangka kasus dugaan korupsi yang pada dasarnya
menyebabkan kerugian Negara seperti yang saat ini sedang berproses di kejaksaan
tinggi Sulawesi utara atas laporan masyarakat terkait dengan korupsi Bimtek dan
SPPD fiktif Rp 610.960.000 serta korupsi
Dana Alokasi Khusus (DAK) di dinas Dikpora, yang masing-masing telah
memiliki tersangka dan sedang berproses di Kejakasaan tinggi Sulawesi utara.
Tak hanya itu, terdapat banyak
kasus lainya seperti yang telah di laporkan masyarakat ke kejati Sulut Dugaan
Korupsi Dana Paud, dugaan penyimpangan pada proyek Jembatan kampung Mini,
dugaan penyimpangan proyek jembatan kampung Hiung, dugaan penyimpangan proyek
pagar museum, dugaan penyimpangan pada proyek tambatan perahu Kawahang, dan
masih banyak lagi laporan masyarakat terkait dengan infrastruktur.
Sementara di tatanan Birokrasi
terdapat berbagai penempatan kepala dinas yang di nilai tidak berdasarkan the
Right man on the right place.
Sayangnya, segala kritik yang di
sampaikan masyarakat sebagai bentuk peran masyarakat dalam penyelenggaraan Negara,
seakan di acuhkan pemerintah. Ironisnya lagi, masyarakat-masyarakat yang ikut
dalam penyelenggaraan pemerintahan tersebut dianggap memprovokasi dengan
menimbulkan opini-opini yang kurang mendidik oleh pemerintah daerah, padahal
jelas ketidak seriusan pemerintah tergambar dari banyaknya infrastruktur yang
kualitasnya di pertanyakan alias “bongkar pasang”.
Pemerintah harusnya pekah
terhadap kritikan masyarakat serta bijak dalam menanggapinya, bukanya
menggunakan kekuasaan untuk melakukan berbagai bentuk penekanan terhadap kritikan
masyarakat yang terkadang tajam dan menggelitik pemerintah daerah bahkan DPRD.
Banyaknya lembaga-lembaga
independen yang kini bermitra dengan pemerintah pun, di anggap hanya menjadi
corong pemerintah sehingga membuat pemerintah terkesan bersembunyi di balik
kekuasaan.
Meski begitu, pemerintah terus
saja memacu percepatan pembangunan untuk memberikan segalah kemudahan fasilitas
bagi masyarakat tanpa harus memperhatikan segala kritik dari masyarakat.
Pemerintah menjanjikan
pengoperasian bandara pada tahun 2016 -2017, jalan lingkar siau yang dapat
memberikan kemudahan akses serta pengembangan potensi laut Sitaro yang akan
mendongkrak perekonomian rakyat dan masih banyak lagi yang di jabarkan dalam
Visi dan Misi bupati wakil bupati itu. (Erga)

0 komentar:
Post a Comment