![]() |
| Video Aksi brutal Siswa SD Bukit tinggi |
Suarasitaronews.com-Bukit tinggi : Krisis moral di dunia pendidikan lagi-lagi terjadi di salah satu SD Bukit tinggi yang menghebohkan jejaring sosial, dimana sejumlah siswa menunjukan aksi brutal dengan melakukan pemukulan terhadap seorang siswi.
Pakar psikologi Reza Indragiri Amriel mengatakan, peristiwa brutal dalam video itu dapat terjadi karena sifat pemarah dan cenderung agresif dari 6 temannya, Ditambah lagi dengan situasi dan kondisi sekolah yang terkesan mengabaikan siswa-siswinya dalam rekaman itu.
"Anak-anak yang pemarah dengan kecenderungan agresif yang tinggi, bertemu dengan sekolah yang abai," kata Reza seperti dilansir detik.com, Senin (13/10) pagi tadi.
Menurutnya pula, Penyelesaian pemukulan yang dilakukan dengan cara saling meminta maaf itu, hanya sebagai bentuk pemakluman dari para orangtua siswa-siswi yang terlibat, Padahal, hal itu tidak memberikan efek jerah terhadap pelaku.
"Orangtua barangkali kadung menganggap kekerasan adalah sinonim kenakalan dan kelumrahan dalam dunia anak-anak," ujar dosen Universitas Binus itu.
Reza menyarankan agar orangtua dan guru di sekolah itu turut bertanggungjawab. Karena Reza melihat orangtua dan guru turut berperan di balik terjadinya peristiwa tersebut.
"Jelas ini bullying. Normatif, anak-anak dipulangkan ke orangtua mereka tapi setelahnya apa? Kalau keluarga, khususnya orangtuanya tak ikut dibenahi, saya pesimis anak-anak yang melakukan kekerasan itu akan berubah tabiat," tegasnya. (erga)
Pakar psikologi Reza Indragiri Amriel mengatakan, peristiwa brutal dalam video itu dapat terjadi karena sifat pemarah dan cenderung agresif dari 6 temannya, Ditambah lagi dengan situasi dan kondisi sekolah yang terkesan mengabaikan siswa-siswinya dalam rekaman itu.
"Anak-anak yang pemarah dengan kecenderungan agresif yang tinggi, bertemu dengan sekolah yang abai," kata Reza seperti dilansir detik.com, Senin (13/10) pagi tadi.
Menurutnya pula, Penyelesaian pemukulan yang dilakukan dengan cara saling meminta maaf itu, hanya sebagai bentuk pemakluman dari para orangtua siswa-siswi yang terlibat, Padahal, hal itu tidak memberikan efek jerah terhadap pelaku.
"Orangtua barangkali kadung menganggap kekerasan adalah sinonim kenakalan dan kelumrahan dalam dunia anak-anak," ujar dosen Universitas Binus itu.
Reza menyarankan agar orangtua dan guru di sekolah itu turut bertanggungjawab. Karena Reza melihat orangtua dan guru turut berperan di balik terjadinya peristiwa tersebut.
"Jelas ini bullying. Normatif, anak-anak dipulangkan ke orangtua mereka tapi setelahnya apa? Kalau keluarga, khususnya orangtuanya tak ikut dibenahi, saya pesimis anak-anak yang melakukan kekerasan itu akan berubah tabiat," tegasnya. (erga)

0 komentar:
Post a Comment