Suarasitaronews.com- Belum lepas dari ingatan kita saat harga saham POT Visi Media Asia Tbk (VIVA) anjlok sehari setelah pemilihan presiden. Selama tiga hari harga saham VIVA terus anjlok.
Pada perdagangan Kamis (10/7), saham VIVA turun paling dalam 6,72 persen menjadi Rp 250. Pada perdagangan Jumat (11/7), saham VIVA masih terperosok, turun 6,40 persen atau 16 poin pada level Rp 234.
Saat itu, sejumlah analis memprediksi, anjloknya saham emiten tersebut karena imbas dari pemberitaan mengenai hasil quick count yang memenangkan pasangan Prabowo-Hatta. Namun, efek tersebut diyakini tidak akan berlangsung lama.
Direktur Utama VIVA Anindya Bakrie Anindya akhirnya angkat bicara soal anjloknya harga saham VIVA. Dia menegaskan bahwa fluktuasi yang terjadi pada saham VIVA di Bursa Efek Indonesia beberapa waktu lalu tidak berkaitan dengan kinerja dan prospek bisnis perseroan.
"Sebagai manajemen kami tidak bisa mengontrol pergerakan saham karena hal itu di luar kontrol perusahaan. Namun, kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan bisnis VIVA tetap solid dan tumbuh secara positif," kilah Anindya melalui siaran pers yang diterima merdeka.com, Kamis (24/7).
Menurutnya, naik turunnya harga saham adalah hal biasa. Saat ini, kata dia, harga saham VIVA sudah kembali naik. "Fluktuasi harga saham di bursa sesungguhnya hal yang biasa. Tetapi kami yakin dengan fundamental yang solid dan strategi bisnis yang kuat, investor yang rasional akan melakukan keputusan investasi yang lebih baik," jelasnya.
Analis Trust Securities Reza Priyambada tidak menampik bahwa pergerakan saham VIVA beberapa hari terakhir lebih disebabkan karena maraknya sentimen negatif tayangan hasil quick count Pemilihan Presiden yang dirasa berbeda dari media lainnya. Ini melahirkan persepsi pelaku pasar terhadap VIVA menjadi negatif. Timbul persepsi bahwa dengan tayangan yang berbeda tersebut akan membuat share penonton berkurang dan turunnya rating hingga potensi berkurangnya pendapatan.
Dengan persepsi dan sentimen negatif tersebut menjadikan kondisi fundamental VIVA dan MDIA (PT Intermedia Capital Tbk, anak usaha VIVA) yang baik menjadi tidak diperhatikan, sehingga bisa dikatakan bahwa pelemahan harga saham keduanya sama sekali tidak mencerminkan kondisi fundamentalnya, tutur Reza.
Pada perdagangan Kamis (10/7), saham VIVA turun paling dalam 6,72 persen menjadi Rp 250. Pada perdagangan Jumat (11/7), saham VIVA masih terperosok, turun 6,40 persen atau 16 poin pada level Rp 234.
Saat itu, sejumlah analis memprediksi, anjloknya saham emiten tersebut karena imbas dari pemberitaan mengenai hasil quick count yang memenangkan pasangan Prabowo-Hatta. Namun, efek tersebut diyakini tidak akan berlangsung lama.
Direktur Utama VIVA Anindya Bakrie Anindya akhirnya angkat bicara soal anjloknya harga saham VIVA. Dia menegaskan bahwa fluktuasi yang terjadi pada saham VIVA di Bursa Efek Indonesia beberapa waktu lalu tidak berkaitan dengan kinerja dan prospek bisnis perseroan.
"Sebagai manajemen kami tidak bisa mengontrol pergerakan saham karena hal itu di luar kontrol perusahaan. Namun, kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan bisnis VIVA tetap solid dan tumbuh secara positif," kilah Anindya melalui siaran pers yang diterima merdeka.com, Kamis (24/7).
Menurutnya, naik turunnya harga saham adalah hal biasa. Saat ini, kata dia, harga saham VIVA sudah kembali naik. "Fluktuasi harga saham di bursa sesungguhnya hal yang biasa. Tetapi kami yakin dengan fundamental yang solid dan strategi bisnis yang kuat, investor yang rasional akan melakukan keputusan investasi yang lebih baik," jelasnya.
Analis Trust Securities Reza Priyambada tidak menampik bahwa pergerakan saham VIVA beberapa hari terakhir lebih disebabkan karena maraknya sentimen negatif tayangan hasil quick count Pemilihan Presiden yang dirasa berbeda dari media lainnya. Ini melahirkan persepsi pelaku pasar terhadap VIVA menjadi negatif. Timbul persepsi bahwa dengan tayangan yang berbeda tersebut akan membuat share penonton berkurang dan turunnya rating hingga potensi berkurangnya pendapatan.
Dengan persepsi dan sentimen negatif tersebut menjadikan kondisi fundamental VIVA dan MDIA (PT Intermedia Capital Tbk, anak usaha VIVA) yang baik menjadi tidak diperhatikan, sehingga bisa dikatakan bahwa pelemahan harga saham keduanya sama sekali tidak mencerminkan kondisi fundamentalnya, tutur Reza.
(merdeka/rags)

0 komentar:
Post a Comment