Suarasitaronews.com - Junk food atau makanan yang tidak memiliki nilai gizi selama
ini selalu dikaitkan dengan obesitas. Namun mungkin tak pernah terpikir
sebelumnya jika makanan ini juga dapat merusak indera penciuman
manusia.
Sebuah studi baru menemukan, pola makan tinggi lemak berkaitan dengan
perubahan, baik secara struktural maupun fungsional pada sistem
penciuman. Penelitian pada tikus membuktikan, tikus yang diberikan pola
makan tinggi lemak memiliki kemampuan yang lebih rendah dalam mengenali
bau tertentu. Mereka mengalami penurunan 50 persen kemampuan sel otak
yang dapat mengenali sinyal ini.
Studi yang dipublikasi dalam Journal of Neuroscience ini
menunjukkan, pola makan sangat mempengaruhi kehidupan manusia secara
luas, tidak hanya dari berat badan dan tinggi badan. Peneliti studi
Nicolas Theibaud mengatakan, studi ini memungkinkan suatu saat peneliti
mengembangkannya sebagai penelitian obesitas.
Menurut dia, ini merupakan pertama kali peneliti mampu menemukan
kaitan yang kuat antara pola makan yang buruk dengan kehilangan
kemampuan penciuman.
Dalam studi ini, peneliti memberi makan tikus berusia enam bulan
dengan makanan-makanan tinggi lemak. Tikus juga diajari bau-bauan, dan
diberi penghargaan dengan minum air putih. Ternyata tikus yang diberikan
makanan tinggi lemak lebih lambat dalam mempelajari bau-bauan
dibandingkan dengan tikus kelompok kontrol.
Ketika peneliti memberikan bau-bauan baru, tikus yang diberi makan
tinggi lemak cenderung sulit untuk mengingatnya. Ini membuktikan bahwa
kemampuan penciuman mereka telah menurun.
Peneliti studi Profesore Debra Ann Fadool mengatakan, ketika
pemberian pola makan kembali ke normal dan tikus sudah kembali tidak
obesitas, namun kemampuan penciumannya tidak bisa kembali normal.
"Tikus yang memiliki pola makan tinggi lemak memiliki kemampuan 50 persen lebih rendah dalam mencium bau," tandasnya. (kompas.com)
0 komentar:
Post a Comment