![]() |
| lustrasi foto |
Suarasitaronews.com- Jakarta : Dunia pendidikan saat ini menjadi sorotan masyarakat, hal tersebut lantaran kasus kekerasan seksual dan kekerasan fisik yang terjadi di Jakarta belum lama ini. Guna mencegah terjadinya aksi kekerasan di lingkungan sekolah, porsi jam pelajaran agama harus ditambah.
"Itu sekolah tidak ada pelajar agama, harusnya ada pelajaran agama dan ideologi Pancasila," ujar Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiyah, KH Noer Muhammad Iskandar SQ kepada Okezone, di Jakarta, Minggu (11/5/2014).
Selain itu, harus ada rekruitmen yang ketat terhadap para pengajar maupun murid di sekolah. "Harus ada rekrutmen yang baik, siapapun itu yang berkaitan dengan kegiatan sekolah. Jangan sampai anak-anak yang menjadi korban, bukannya melindungi malahan menyakiti," lanjutnya.
Untuk itu, kata dia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus melakukan seleksi yang ketat. "Kemendikbud harus seleksi yang kuat pendidikan nasional, jangan sampai kejadian seperti itu berulang kembali kejadiannya," pungkasnya.
Sebelumnya belum lama ini, kasus kejahatan seksual terjadi di Jakarta International School (JIS), seorang siswa Taman Kanak-Kanak (TK) berinisial AK (6) menjadi korban kehajahatan seksual oleh petugas cleaning service. Saat ini kini polisi telah menetapkan enam orang tersangka, dan satu orang tewas.
Selain itu kasus lain yang mencoreng dunia pendidikan yaitu, kasus kekerasan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta Utara. Seorang siswa bernama Dimas Dikita Handoko (19) tewas setelah dianiaya oleh seniornya. Tak hanya itu, kasus serupa terjadi juga di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 09 Kampung Makasar, Jakarta Timur, siswa kelas V Renggo Kadapi (11), tewas setelah dianiaya oleh Sy (13).(okezone.com/rags)

0 komentar:
Post a Comment